YDIG NEWS

Rabu, 14 November 2018

MENGURAI KONTROVERSI BENDERA NABI


Kegaduhan di kalangan umat pasca pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid tampaknya terus berlanjut pada kontroversi seputar eksistensi, fungsi, dan sifat fisikal bendera Nabi saw. Para pihak yang kontra dengan HTI berusaha menolak bendera (rayah dan liwa) tersebut sebagai bendera Islam, bendera Rasulullah saw. Cek di sini  dan di siniSebaliknya, pihak yang pro berusaha mengukuhkan bahwa itu bendera Rasulullah saw. Cek di sini  dan di sini
Kedua belah pihak menguatkan argumentasi masing-masing dengan berpijak pada metodologi kritik otentisitas—atau paling tidak merujuk pada penilaian ulama pakar hadis—informasi   seputar bendera Nabi saw., meski pihak kontra melibatkan pula analisa maestro pembuat kaligrafi Arab di Indonesia dari aspek sejarah khat, untuk mendukung tesis mereka.
Di kalangan internal jam’iyyah Persis, kajian tentang bendera Nabi ini telah dilakukan oleh generasi muda Persis, jauh sebelum pembakaran bendera terjadi. Hasil kajiannya telah dipublikasi secara terbuka di media online dan telah dimuat pula dalam media offline: majalah Risalah No. 8 TH.56, November 2018, hlm. 74-81.
Setelah mencermati argumentasi berbagai pihak tampak terlihat adanya ketidaktepatan—untuk tidak menyebut kelemahan—SOP takhrij al-hadits dan metodologi al-Jarh wa at-Ta’dil yang digunakan, karena semua pihak hanya focus berkutat soal keabsahan pada satu-dua riwayat yang memperbincangkan sifat fisikal bendera, sehingga abai terhadap semua informasi bendera yang tersebar pada sekitar 250 riwayat secara kolektif, baik soal eksistensi, fungsi, maupun sifat fisikalnya, sebagai berikut:
A. Eksistensi dan Fungsi
Eksistensi dan fungsi Al-Liwaa’ dan Ar-Raayah adalah faktual (berdasarkan kenyataan; mengandung kebenaran) berdasarkan hadis shahih, antara lain riwayat Imam Al-Bukhari yang tercantum pada bab
باب مَا قِيلَ فِي لِوَاءِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bab apa yang dikatakan tentang bendera Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
Pada bab ini dicantumkan tiga hadis:
Pertama:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ثَعْلَبَةُ بْنُ أَبِي مَالِكٍ الْقُرَظِيُّ أَنَّ قَيْسَ بْنَ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ الْحَجَّ فَرَجَّلَ
“Said bin Abi Maryam telah bercerita kepada kami, ia berkata, ‘Al-Laits telah bercerita kepadaku, ia berkata, ‘’Uqail telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Sihab, ia berkata, ‘Tsa’labah bin Abi Malik Al Qurazhiy telah mengabarkan kapadaku bahwa Qais bin Sa’ad Al-Anshariy Ra. adalah pembawa bendera Rasulullah saw, ketika ia hendak melaksanakan haji, lalu ia menyisir rambutnya.” HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, III: 1086, No. 2811
Kedua:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَخَلَّفَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَيْبَرَ وَكَانَ بِهِ رَمَدٌ فَقَالَ أَنَا أَتَخَلَّفُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ عَلِيٌّ فَلَحِقَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا كَانَ مَسَاءُ اللَّيْلَةِ الَّتِي فَتَحَهَا فِي صَبَاحِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْ قَالَ لَيَأْخُذَنَّ غَدًا رَجُلٌ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Qutaibah bin Sa’ad telah bercerita kepada kami, Hatim bin Isma’il telah bercerita kepada kami, dari Yazid bin Abi ‘Ubaid, dari Salamah bin Al Akwa’ Ra., ia berkata, ‘Ali Ra. pernah tertinggal dari Nabi saw. dalam peperangan Khaibar karena dia menderita sakit mata. Ali berkata, ‘Aku tertinggal dari Rasulullah saw.’ Kemudian dia berangkat lalu bertemu dengan Nabi. Ketika malam hari yang keesokan paginya Khaibar ditaklukan, Rasulullah saw. Bersabda, ‘Sungguh pasti aku akan menyerahkan bendera perang ini.’ atau Beliau bersabda, ‘Sungguh (bendera ini) akan diambil besok pagi oleh orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.’ atau Beliau bersabda, ‘Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, di mana Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya.’ Maka ketika kami sedang bersama ‘Ali, dan kami tidak mengharapkannya, maka mereka berkata, ‘Inilah Ali.’ Maka Rasulullah saw. memberikan bendera itu kepadanya, kemudian Allah memenangkan peperangan Khaibar ini melalui tangannya’.” HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, III: 1086, No. 2812
Ketiga:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ سَمِعْتُ الْعَبَّاسَ يَقُولُ لِلْزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا هَا هُنَا أَمَرَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَرْكُزَ الرَّايَةَ
“Muhammad bin Al-‘Alaa’ telah bercerita kepada kami, Abu Usamah telah bercerita kepada kami, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, dari Nafi’ bin Jubair, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-‘Abbas berkata kepada Az-Zubair Ra., ‘Disinikah Nabi saw. memerintahkan kamu untuk menancapkan bendera?’.” HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, III: 1086, No. 2813
Penjelasan Kriteria Al-Liwaa’ dan Ar-Raayah
Pada hadis-hadis di atas terdapat dua istilah yang digunakan untuk menunjuk panji atau bendera pada masa Nabi saw., yaitu Al-Liwaa’ dan Ar-Raayah. Kriteria kedua bendera ini dijelaskan oleh para ulama, antara lain Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai berikut:
اللِّوَاءُ بِكَسْرِ اللَّامِ وَالْمَدِّ هِيَ الرَّايَةُ، وَيُسَمَّى أَيْضًا الْعَلَمَ، وَكَانَ الْأَصْل أَنْ يُمْسِكَهَا رَئِيسُ الْجَيْشِ ثُمَّ صَارَتْ تُحْمَلُ عَلَى رَأْسِهِ، وَقَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ الْعَرَبِيّ: اللِّوَاءُ غَيْرُ الرَّايَةِ، فَاللِّوَاءُ مَا يُعْقَدُ فِي طَرَفِ الرُّمْحِ وَيُلْوَى عَلَيْهِ، وَالرَّايَةُ مَا يُعْقَدُ فِيهِ وَيُتْرَكُ حَتَّى تَصْفِقَهُ الرِّيَاحُ. وَقِيلَ اللِّوَاءُ دُونَ الرَّايَةِ، وَقِيلَ اللِّوَاءُ الْعَلَمُ الضَّخْمُ. وَالْعَلَمُ عَلَامَةٌ لِمَحِلِّ الْأَمِيرِ يَدُورُ مَعَهُ حَيْثُ دَارَ، وَالرَّايَةُ يَتَوَلَّاهَا صَاحِبُ الْحَرْبِ
Al-Liwaa – dengan dikasrahkan huruf lam dan dipanjangkan (huruf wawu) – adalah ar-raayah, dan dinamakan juga al-‘alam. Pada asalnya al-liwaa itu dipegang oleh pemimpin pasukan kemudian menjadi dibawa di atas kepalanya. Abu Bakr bin al-‘Arabiy berkata, “al-liwaa itu bukan ar-raayah, karena al-liwaa itu adalah bendera yang diikat diujung tombak dan dinaikkan atasnya, sedangkan ar-raayah adalah bendera yang diikatkan pada tombak dan ditinggalkan (ditancapkan) hingga terkibarkan oleh angin”. Dan ada yang berpendapat, “Al-liwaa itu (ukurannya) di bawah ar-raayah.” Dan ada pula yang berpendapat, “al-liwaa itu adalah al-‘alam adl-dhakhm (bendera yang besar). Dan al-‘alam merupakan ciri tempat pemimpin pasukan yang menyesuaikan dengannya kemana pun ia bergerak. Sedangkan ar-raayah adalah bendera yang dikuasai oleh pasukan perang.”
وَقِيلَ كَانَتْ لَهُ رَايَةٌ تُسَمَّى الْعِقَابَ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً، وَرَايَةٌ تُسَمَّى الرَّايَةَ الْبَيْضَاءَ، وَرُبَّمَا جُعِلَ فِيهَا شَيْءٌ أَسْوَدُ.
Dan ada yang berpendapat, “Nabi saw. memiliki sebuah raayah (bendera) yang dinamakan al-‘iqaab berwarna hitam dan berbentuk persegi empat, dan raayah dinamakan juga ar-raayah al-baidhaa’ (bendera putih), dan terkadang dibuatkan sedikit warna hitam padanya.” [1]
Hadis-hadis tentang Al-Liwaa’ dan Ar-Rayaah di atas ditempatkan pula oleh Imam Al-Bukhari pada berbagai judul bab lain. Selain itu, ia meriwayatkan pula hadis lain tentang kedua bendera itu, antara lain:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ وَإِنَّ عَيْنَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَذْرِفَانِ ثُمَّ أَخَذَهَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مِنْ غَيْرِ إِمْرَةٍ فَفُتِحَ لَهُ
Dari Anas bin Malik Ra., ia berkata, “Nabi saw. Bersabda, “Bendera perang dipegang oleh Zaid lalu dia terbunuh, kemudian dipegang oleh Ja’far lalu dia terbunuh, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah namun diapun terbunuh, dan nampak kedua mata Rasulullah saw. berlinang. Akhirnya bendera dipegang oleh Khalid bin Al Walid tanpa menunggu perintah, maka kemenangan diraihnya”. HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I: 420, No. 1189
Penggunaan Ar-Rayah dalam konteks ini pada perang Mu’tah (Jumadil Ula tahun 8 H/630 M) dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Yordan dan Al-Karak, antara pasukan kaum muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang melawan tentara Kekaisaran Romawi Timur.
Dalam peristiwa itu, Ar-Raayah dipegang oleh empat orang secara bergantian setelah panglima perang sebelumnya mati syahid: (1) Zaid bin Haritsah, (2) Ja’far bin Abu Thalib, (3) Abdullah bin Rawaahah, dan terakhir oleh Khalid bin Walid tanpa menunggu komando dari Nabi saw. atas dasar pertimbangan kemaslahatan dan kekhawatiran pasukan muslim akan mengalami kekalahan, sehingga inisiatif khalid diridhai oleh Nabi saw. [2]
Bendera itu dipergunakan pula dalam peperangan lain pada masa beliau dan pada masa para shahabat, antara lain:
waktu perang Badar pada 17 Ramadan 2 H/13 Maret 624 M, dipegang oleh Ali bin Abu Thalib (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, III: 120, No. 4583; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, VI, 207, No. 11.945; Ath-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, I: 106, No. 174)
Waktu perang Yamamah pada 11 H/Desember 632,  dipegang oleh Zaid bin Khathab (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, III: 252, No. 5006)
Waktu perang Al-Qadisiyyah  pada 15 H/ 636 M,  dipegang oleh Suwaid bin Muqarrin (HR. Ibnu Abu Syaibah, Al-Mushannaf, VI: 551, No. 33.747)
Insiden Shiffin 1 Shafar tahun 37 H/ Mei-Juli 657 M antara kubu Muawiyah bin Abu Sufyan dan kubu Ali bin Abi Talib di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syria (Syam), sebagaimana dinyatakna oleh Ammar: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh, saya telah berperang dengan bendera ini bersama dengan Rasulullah saw. sebanyak tiga kali peperangan, dan ini adalah keempat kalinya.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, IV: 319, No. 18.903; Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, XV: 555, No. 7080; Abu Dawud Ath-Thayalisiy, Musnad Ath-Thayalisiy, I:89, No. 642. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dengan sanad dan matan berbeda (Al-Mustadrak, III: 445, No. 5687). Dalam riwayat Ibnu Abu Syaibah disebutkan pemegang Ar-Rayah Ali adalah Hasyim bin Uthbah, dan Ar-Rayah itu berlatar hitam (Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, VII: 546, No. 37.837)
Penjelasan Fungsi Al-Liwaa’ dan Ar-Raayah
Judul bab dan berbagai hadis yang dicantumkan oleh Imam Al-Bukhari di atas, selain menjelaskan eksistensi bendera yang tidak dapat dinihilkan, juga menunjukkan fungsi utama (mayor) dan pelengkap (minor) penggunaan bendera. Fungsi ini dijelaskan pula oleh para ulama pensyarah kitab sebagai berikut:
Pada hadis I, disebutkan pembawa Al-Liwa adalah Qais bin Sa’ad Al-Anshari. Ia sebagai komandan perang dari kaum Anshar.
Hubungan hadis dengan judul bab, dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai berikut:
قَوْلُهُ : (وَكَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) أَيْ الَّذِي يُخْتَصُّ بِالْخَزْرَجِ مِنَ الْأَنْصَارِ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَغَازِيْهِ يَدْفَعُ إِلَى رَأْسِ كُلِّ قَبِيلَةٍ لِوَاءً يُقَاتِلُونَ تَحْتَهُ. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ قَوِيٍّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ “أَنَّ رَايَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَكُونُ مَعَ عَلِيٍّ، وَرَايَةَ الْأَنْصَارِ مَعَ سَعْدِ ابْنِ عُبَادَةَ” الْحَدِيث.
“Ucapannya (Tsa’labah bin Malik), “Dan Qais bin Sa’ad adalah pembawa bendera Rasulullah saw.” Yaitu pembawa bendera yang ditentukan untuk Bani Khazraj dari kaum Anshar. Dan pada setiap perang yang dipimpin Nabi saw., beliau senantiasa memberikan sebuah bendera pada setiap pemimpin masing-masing kabilah yang mereka berperang di bawah komando (pembawa) bendera itu, dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang kuat dari hadis Ibnu ‘Abbas, “Bahwa bendera Nabi saw. berada bersama ‘Ali dan bendera kaum Anshar berada bersama Sa’ad bin ‘Ubadah” (baca hadis itu selengkapnya).
وَاقْتَصَرَ الْبُخَارِيُّ عَلَى هَذَا الْقَدْرِ مِنَ الْحَدِيثِ لِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ وَلَيْسَ مِنْ غَرَضِهِ فِي هَذَا الْبَابِ وَإِنَّمَا أَرَادَ مِنْهُ أَنَّ قَيْسَ بْنَ سَعْدٍ كَانَ صَاحِبَ اللِّوَاءِ النَّبَوِيِّ وَلَا يَتَقَرَّرُ فِي ذَلِكَ إِلَّا بِإِذْنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهَذَا الْقَدْرُ هُوَ الْمَرْفُوعُ مِنَ الْحَدِيثِ تَامًّا وَهُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَيْهِ هُنَا
Dan Imam al-Bukhari membatasi diri atas ukuran (kutipan kalimat) ini dari hadis itu, karena hadis itu mauquf (khabar yang bersumber dari sahabat), dan penempatan hadis itu (secara lengkap) pada bab ini bukanlah tujuan utama, namun maksud beliau tiada lain (menampilkan hubungan hadis ini dengan bab) bahwa Qais bin Sa’ad adalah pembawa bendera Nabi dan ia tidak tetap menjadi pembawa bendera kecuali dengan izin dari Nabi saw. Maka kadar ini adalah marfu’ (khabar yang bersumber dari Nabi) secara sempurna, dan kadar itu yang menjadi kebutuhan pencantumannya pada bab ini.” [3]
Pada hadis II disebutkan Nabi menyerahkan Ar-Rayah kepada Ali bin Abu Thalib pada perang Khaibar (tahun 7 H/629 M) yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. sebagai panglima militer.
Dalam riwayat lain disebutkan bendera yang diserahkan itu bukan hanya Ar-Raayah namun dengan Al-Liwaa. Ar-Raayah dan Al-Liwwa dalam perang itu dipegang oleh tiga orang secara bergantian: (1) semula oleh Abu Bakar, lalu (2) oleh Umar bin Khatab, selanjutnya (3) oleh Ali bin Abu Thalib. (HR. An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, V: 179, No. 8601; Ahmad, Musnad Ahmad, V: 354, No. 23.043, Fadha’il Ash-Shahabah, II: 594, No. 1009; Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Ash-Shagir, II: 65, No. 790)
Kedudukan penggunaan kedua bendera itu ditegaskan oleh Imam Ibnu Bathal:
و قَوْلُهُ: (لَأُعْطِيَّنَّ الرَّايَةَ) فَعَرَّفَهَا بِالأَلِف وَاللَّام يَدُلُّ أَنَّهَا كَانَتْ مِنْ سُنَّتِهِ صلى الله عليه وسلم فِي حُرُوْبِهِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسَارَ بِسِيْرَتِهِ فِي ذلِكَ
“Dan sabdanya: ‘Sungguh pasti aku akan menyerahkan bendera…’ Maka beliau mendefinisikan Ar-Rayah dengan symbol ma’rifah (Alif lam definitif) yang menunjukkan bahwa penggunaan bendera pasukan bagian dari Sunnah Nabi dalam peperangan, maka pantas untuk diteladani siroh (tingkah laku) beliau dalam hal itu.” [4]
Adapun hubungan hadis dengan judul bab, dijelaskan oleh Imam Al-Qashthalani
وَالْغَرَضُ مِنْهُ قَوْلُهُ: “لَأُعْطِيَّنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ” فَإِنَّهُ يُشْعِرُ بِأَنَّ الرَّايَةَ لَمْ تَكُنْ خَاصَّةً بِشَخْصٍ بِعَيْنِهِ بَلْ كَانَ يُعْطِيْهَا فِي كُلِّ غَزْوَةٍ لِمَنْ يُرِيْدُ.
“Dan tujuan dari pencantuman hadis itu adalah sabda Nabi: ‘Sungguh pasti aku akan menyerahkan bendera itu besok pada orang yang dicintai oleh Allah” karena kalimat itu memberitahukan, bahwa bendera tidak dikhususkan bagi individu tertentu namun beliau akan memberikannya pada orang yang beliau kehendaki di setiap peperangan.” [5]

0 komentar:

Posting Komentar