YDIG NEWS

Selasa, 27 November 2018

REAKTUALISASI UKHUWWAH ISLAMIYYAH


Selayang Pandang Makna Ukhuwah
Ukhuwwah yang biasa diartikan sebagai "persaudaraan" terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhimya ukhuwah diartikan sebagai "setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan -dari pihak ibu, bapak, atau keduanya- maupun dari segi persusuan".
Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwah digunakan juga dengan arti teman akrab atau sahabat.
Sebagian masyarakat Muslim sudah sangat lama mengenal istilah ukhuwwah Islamiyyah ini dengan makna "persaudaraan yang dijalin oleh sesama Muslim", atau dengan kata lain, "persaudaraan antarsesama Muslim", sehingga dengan demikian, kata "Islamiyyah" dijadikan pelaku ukhuwah itu.
Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektifa sehingga ukhuwah Islamiyyah berarti "persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam." Paling tidak, ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini.
Pertama. Al-Quran dan hadis memperkenalkan bermacam- macam persaudaraan, seperti yang akan diuraikan selanjutnya.
Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa Arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata ukhuwwah Islamiyyah dan Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.

Ukhuwah dalam Al-Quran
Dalam Al-Quran, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak ±52 kali. Di antara makna yang dirujuk oleh kata ini adalah:
1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan. atau keharaman menikahi orang-orang tertentu. Firman Allah s.w.t.:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمۡ أُمَّهَٰتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ وَأَخَوَٰتُكُمۡ وَعَمَّٰتُكُمۡ وَخَٰلَٰتُكُمۡ وَبَنَاتُ ٱلۡأَخِ وَبَنَاتُ ٱلۡأُخۡتِ …..٢٣
"Diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak- anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara perempuan ibumu, (dan) anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki… (QS Al-Nisa' [4]: 23).

2. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi du’a Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al-Quran:

 وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي ٢٩ هَٰرُونَ أَخِي ٣٠
"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku (QS Thaha [20]: 29-30 ).

3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama. seperti dalam firman-Nya:

۞وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودٗاۚ ...
"Dan kepada suku 'Ad,(kami utus) saudara mereka Hud (QS Al-A'raf [7]: 65).

Seperti telah diketahui kaum 'Ad membangkang terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud, sehingga Allah memusnahkan mereka (baca antara lain QS Al-Haqqah [69]: 6-7).


4. Saudara semasyarakat. walaupun berselisih paham:
إِنَّ هَٰذَآ أَخِي لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ٢٣
"Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia berkata kepadaku, "Serahkan kambingmu itu kepadaku"; dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan (QS Shad [38]: 23).

5. Persaudaraan seagama. Ini ditunjukkan oleh firman Allah:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠
"Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat" (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Ukhuwah dalam Praktik
Jika kita mengangkat salah satu ayat yang berkaitan dengan ukhuwah, agaknya salah satu ayat yang terdapat dalam surat Al-Hujurat (49): 10 tadi dapat dijadikan landasan pengamalan konsep ukhuwah Islamiah.
Kata ishlah atau shalah yang banyak sekali berulang dalam Al-Quran, pada umumnya tidak dikaitkan dengan sikap kejiwaan, melainkan justru digunakan dalam kaitannya dengan perbuatan nyata. Kata ishlah hendaknya tidak hanya dipahami dalam arti mendamaikan antara dua orang (atau lebih) yang berselisih, melainkan harus dipahami sesuai makna semantiknya dengan memperhatikan penggunaan Al-Quran terhadapnya.
Puluhan ayat berbicara tentang kewajiban melakukan shalah dan ishlah. Dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata shalah diartikan sebagai antonim dari kata fasad (kerusakan) yang juga dapat diartikan sebagai yang bermanfaat. Sedangkan kata islah digunakan oleh Al-Quran dalam dua bentuk: Pertama, ishlah yang selalu membutuhkan objek; dan kedua adalah shalah yang digunakan sebagai bentuk kata sifat, sehingga shalah dapat diartikan terhimpunnya sejumlah nilai tertentu pada sesuatu agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan kehadirannya. Apabila pada sesuatu tersebut ada satu nilai yang tidak menyertainya hingga tujuan yang dimaksudkan tidak tercapai, maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai tersebut, dan hal yang dilakukannya itu dinamai ishlah.
Jika kita merujuk hadis, salah satu hadis yang populer tentang ukhuwah adalah sabda Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, At- Tirmidzi dari sahabat Umar:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan dari seorang Muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian. (Dalam redaksi lain yang diriwayatkan Imam Ahmad  dari Abu Hurairah larangan di atas dilengkapi dengan: "...Dia tidak mengkhianatinya, tidak membohonginya, dan tidak pula meninggalkanya tanpa pertolongan").
Renungan
Pada masa kejayaan peradaban kaum Muslimin, ukhuwah islamiyah yang didasari keimanan yang kokoh menjadi faktor penentu keberhasilan para pendahulu kita. Tatanan kehidupan yang berperadaban lahir dari pancaran sinar ukhuwah tersebut. Perlu kita tafakkuri, tingkah laku serta nasib umat Islam pada masa kini yang semakin terpinggirkan dari kancah peradaban umat manusia. Apakah ini suatu tanda bahwa kita belum cukup beriman, karena sampai saat ini kita masih belum mampu bersikap sebagai saudara, sehingga kejayaan masa lalu belum dapat kita wujudkan sebagai kejayaan masa kini?
Tentu saja kejayaan itu masih dapat kita raih kembali seperti yang pernah ditorehkan oleh Nabi kita bersama para shahabatnya. Namun itu semua memerlukan tekad dan kesungguhan kita dalam memperbaharui perilaku keberagamaan kaum muslimin untuk memperkokoh kembali ikatan persaudaraan dalam bingkai persatuan dan kebersamaan. Dengan kebersamaan dari kita sendirilah kejayaan itu harus dibangun, bukankah agama kita ini merupakan "Agama Kebersamaan" dan bukan "Agama Individual"?!

0 komentar:

Posting Komentar