YDIG NEWS

Selasa, 20 November 2018

Kaifiyat Pengurusan Jenazah


Tata cara Memandikan Mayit
Yang dimaksud memandikan mayit ialah membersihkan dan mensucikan mayit dari kotoran dan najis yang melekat di badannya, supaya ia menghadap Allah dalam keadaan suci bersih.
Mayit yang wajib dimandikan ialah mayit yang meninggal biasa, tidak gugur di dalam peperangan melawan orang kafir (syahid).
Orang yang akan memandikan mayit dan para pembantunya hendaknya orang yang shaleh, jujur, dan dapat dipercaya, agar tidak menyiarkan hal-hal yang tidak baik, misalnya kecacatan dalam tubuh mayat.
Sebaiknya yang memandikan mayat itu adalah keluarganya. Lebih utama bagi seorang suami memandikan mayat isterinya atau sebaliknya.
Yang memandikan mayat pria haruslah pria, begitu pula mayat wanita oleh wanita. Kecuali oleh muhrimnya. (suami-isteri, ibu-bapaknya dan anak-anaknya).
a.       Keutamaan Memandikan Mayit
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَأَدَّى فِيهِ الْأَمَانَةَ وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ قَالَ لِيَلِهِ أَقْرَبُكُمْ مِنْهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ فَإِنْ كَانَ لَا يَعْلَمُ فَمَنْ تَرَوْنَ أَنَّ عِنْدَهُ حَظًّا مِنْ وَرَعٍ وَأَمَانَةٍ
Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah e bersabda, "Barangsiapa yang memandikan mayit dengan menyempurnakan segala amanatnya, yaitu tidak menceritakan 'aib yang ada padanya, maka ia bersih dari dosanya seperti bersihnya anak-anak pada harti dilahirkan oleh ibunya.  Beliau melanjutkan, Keluarga terdekat, lebih utama untuk mengurusnya kalau mereka bisa. Jika mereka tidak bisa, maka siapa saja yang memiliki kemampuan, berupa kehati-hatian dan dan menjaga amanat. (Ahmad dari 'Aisyah)
b.      Washiat Memandikan
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيِّ  rقال لَها لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَقُمْتُ عَلَيْكِ فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ
Dari Aisyah, bahwasanya Nabi e berpesan kepadanya, "Seandainya kamu (Aisyah) meninggal terlebih dahulu, Aku akan berdiri untukmu akulah yang akan memandikanmu, mengkafanimu, menyalatimu, dan menguburmu". (Ahmad dan Ibnu Majah: 1454)
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ أَنَّ فَاطِمَةَ أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا زَوْجُهَا عَلِىٌ وَأَسْمَاءُ فَغَسَّلاَهَا
Dari Asma' binti Umais, sesungguhnya Fatimah berwashiat agar suaminya, Ali dan Asma memandikan jenazahnya. Maka keduanya memandikannya. (Daraquthny: 1873)
c.       Cara Memandikan Mayit
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ  rقَالَتْ لَمَّا أَرَادُوا غُسْلَ رَسُولِ اللَّهِ eاخْتَلَفُوا فِيهِ فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا نَرَى كَيْفَ نَصْنَعُ أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ r كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ نُغَسِّلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ قَالَتْ فَلَمَّا اخْتَلَفُوا أَرْسَلَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ السِّنَةَ حَتَّى وَاللَّهِ مَا مِنْ الْقَوْمِ مِنْ رَجُلٍ إِلَّا ذَقْنُهُ فِي صَدْرِهِ نَائِمًا قَالَتْ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ لَا يَدْرُونَ مَنْ هُوَ فَقَالَ اغْسِلُوا النَّبِيَّ r وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ قَالَتْ فَثَارُوا إِلَيْهِ فَغَسَّلُوا رَسُولَ اللَّهِوَهُوَ فِي قَمِيصِهِ يُفَاضُ عَلَيْهِ الْمَاءُ وَالسِّدْرُ وَيُدَلِّكُهُ الرِّجَالُ
Dari 'Aisyah, ia berkata, ketika mereka akan memandikan jenazah Rasulullah, mereka berselisih, dan berkata, 'Demi Allah, kita tidak tahu apa yang mesti kita lakukan, apakah kita harus membuka pakaian  Rasulullah sebagaimana kita melepaskan pakaian mayit-mayit kita ataukah kita memandikannya dengan tetap memakai pakaiannya? Ia (Aisyah) berkata, ketika mereka sedang berselisih, Allah menurunkan kantuk kepada mereka. Sehingga,  demi Allah, tidak seorangpun di antara mereka kecuali dagunya menempel di dadanya karena tertidur, ia berkata, lalu ada seseorang yang tidak dikenal berseru di salah satu pojok, 'Mandikanlah beliau dengan memakai pakaiannya' ia berkata, lalu mereka memandikan Rasulullah dengan memakai pakaiannya, disiramkannya air  dan daun bidara kepadanya, dan mereka menggosoknya. (Ahmad)
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ تُوُفِّيَتْ إِحْدَى بَنَاتِ النَّبِيِّ  rفَأَتَانَا النَّبِيُّ r فَقَالَ اغْسِلْنَهَا بِالسِّدْرِ وِتْرًا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ فَضَفَرْنَا شَعَرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ وَأَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا
Dari Ummi 'Athiyah, ia berkata, salah seorang putri Rasulullah (yaitu Zaenab) wafat. Maka Nabi mendatangi kami lalu bersabda, "Mandikan ia secara ganjil, pakailah  daun bidara, mandikan  sebanyak tiga kali atau lima kali atau lebih dari itu jika kamu pandang perlu, dan jadikanlah pada siraman terakhir dengan menggunakan kapur barus atau sedikit kapur barus. Jika telah selesai beritahulah aku. Maka ketika selesai kami memberitahunya. Lalu beliau melemparkan kainnya kepada kami. Lalu kami memintal rambutnya menjadi tiga pintalan dan kami untaikan ia ke bagian belakangnya. (Bukhari:1184)
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r حَيْثُ أَمَرَهَا أَنْ تَغْسِلَ ابْنَتَهُ قَالَ لَهَا ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا
Dari Ummi 'Athiyah, sesungguhnya Rasulullah r ketika memerintahnya untuk memandikan putrinya, beliau bersabda, "Mulailah (memandikannya) dari yang sebelah kanan dan tempat-tempat wudhunya". (Muslim:1560)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah diambil kesimpulan berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar dalam memandikan mayit, yaitu:
1)      Sebaiknya yang memandikan mayat itu adalah keluarganya. Lebih utama bagi seorang suami memandikan mayat isterinya atau sebaliknya.
2)      Yang memandikan mayat pria haruslah pria, begitu pula mayat wanita oleh wanita. Kecuali oleh muhrimnya. (suami-isteri, ibu-bapaknya dan anak-anaknya).
3)      Jaga dan pelihara auratnya selama memandikan sampai mengkafani.
Cara memandikan Jenazah
1)      Baringkan mayit pada tempat memandikannya.
2)      Buka seluruh pakaiannya (apabila susah dibuka, tidak mengapa membuka pakaiannya dengan digunting), dan tutup auratnya dengan handuk kecil, atau kain yang tembus air.
3)      Mulailah memandikan mayit dengan mengucurkan air ke bagian badan sebelah kanan, mulai dari kepala sampai kaki. Lalu bagian tubuh yang kiri.
4)      Cucilah anggota yang biasa dicuci saat berwudhu (bukan diwudhukan, tapi dicuci).
5)      Kemudian dimandikan seluruh badannya hingga bersih, termasuk hidung dan telinganya dengan menggunakan alat korek kuping dan kapas. Boleh  pakai sabun atau pembersih lainnya. Lakukan sebanyak tiga kali atau lima kali. Lakukan dengan perlahan, tidak boleh dipaksa atau dipijit-pijit secara berlebihan.
6)      Bila jenazah telah kaku, jangan dipaksa, tetapi dilemaskan pelan-pelan dengan sabar ke arah yang dikehendaki.
7)      Terakhir siramlah dengan air kapur barus ke seluruh tubuh mayit, lalu keringkan dengan handuk besar.
8)      Bagi mayit perempuan, dianjurkan agar rambutnya dikepang tiga dan diurai ke belakang.
9)      Setelah selesai dimandikan, angkat dan gotonglah mayat ini ke tempat yang telah disediakan untuk mengkafaninya.
10)   Baringkan mayat di atas kafan yang telah disediakan, kepalanya sebelah utara dan kakinya sebelah selatan, kemudian miringkan kepalanya ke kanan (menghadap kiblat) dengan diberi bantal kecil di bawah kepalanya.
11)   Sebelum dikafani, jenazah senantiasa tertutup auratnya.

2.      Mengkafani
عن جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قال, قَالَ النَّبِيُّ  r إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Nabi e bersabda, 'Jika kamu mengkafani saudaramu, hendaklah ia baguskan kafannya' (Muslim: 1567)
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ أَنَّ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ شَيْءٌ يُكَفَّنُ فِيهِ إِلَّا نَمِرَةٌ فَكُنَّا إِذَا وَضَعْنَاهَا عَلَى رَأْسِهِ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ وَإِذَا وَضَعْنَاهَا عَلَى رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  r ضَعُوهَا مِمَّا يَلِي رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ الْإِذْخِرَ وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهْوَ يَهْدِبُهَا
Dari Khabab bin al-Arat, ia berkata, sesungguhnya Mush'ab bin Umair, gugur pada waktu perang Uhud, tidak terdapat baginya kain kafan kecuali sehelai baju saja, jika kami letakkan di kepalanya pasti terlihat kakinya, jika kami tutup kakinya pasti akan terbuka kepalanya. Maka Rasulullah saw bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya dan tutuplah kakinya dengan rumput". (Muslim: 1562)
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ كَفَّنَ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فِي نَمِرَةٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ
Dari Jabir bin Abdullah, sesungguhnya Rasulullah e mengkafani Hamzah bin Abdul Muthallib dengan kain namirah (gamis/selimut) dengan satu baju saja. (Tirmidzi: 918)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  r يَقُولُ إِذَا تُوُفِّيَ أَحَدُكُمْ فَوَجَدَ شَيْئًا فَلْيُكَفَّنْ فِي ثَوْبٍ حِبَرَةٍ
Dari Jabir, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah e bersabda, 'Apabila ada yang wafat diantaramu dan ia mendapati sesuatu, hendaklah ia dikafani dengan baju berjubah. (Abu Dawud: 2739)
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ  eفِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ 
Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah r dikafani dengan tiga kain putih dari kapas, tidak ada padanya baju dan sorban. (Muslim:1563)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  r الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, Rasulullah e bersabda, "Pakailah yang putih dari pakaian-pakaian kamu, karena ia sebaik-baik pakaian. Dan kafanilah dengannya  orang-orang yang mati diantara kalian". (tirmidzi:915)

1.      MENYALATI JENAZAH
عَنْ أبي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  r مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah e bersabda, "Barangsiapa yang mengurus jenazah hingga menyalatinya maka baginya pahala satu qirath. Barangsiapa yang mengurusnya hingga menguburkannya maka baginya pahala dua qirath. Ditanyakan kepadanya, berapakah du qirath itu? Jawabnya, sebanding dengan dua gunung yang besar". (Muslim: 1570)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ r  يَقُولُ إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ (ابو داود)
Dari Abu Hurairah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah r bersabda, "Apabila kamu menyalati mayit, maka du'akanlah ia dengan ikhlash". (Abu Dawud:2784)
Shalat jenazah disyari'atkan untuk mendu'akan dan memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuk si mayat. Shalat janazah boleh dilakukan sendiri atau berjama'ah.
Jenazah dibaringkan, dihadapkan ke kiblat,  dengan kepala ke arah utara  dan kaki ke arah selatan, badannya di ganjal agar menghadap ke kiblat. Apabila jenazahnya laki-laki, hendaknya yang shalat berdiri di dekat/se arah kepala si mayit. Apabila jenazahnya perempuan, hendaknya yang shalat berdiri di tengah-tengah (dekat/se arah perut) si mayit.
Shalat janazah dilakukah hanya satu raka'at dengan empat (4) kali takbir tanpa ruku', sujud, dan duduk. Setiap takbir, harus mengangkat tangan dan membaca do'a-do'a sebagai berikut:
Takbir pertama, seperti takbir untuk sholat, dengan mengangkat kedua tangan lalu bersedekap, kemudian membaca surat al-fatihah dan sholawat (seperti sholawat di waktu tahiyat)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كّمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كّمَا بَارِكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
"Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada keluarga Nabi Ibrahim; dan berilah karunia kepada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya, sebagaimana Engkau telah beri karunia kepada keluarga Nabi Ibrahim di antara seluruh makhluk di dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia"
Takbir kedua, mengangkat tangan lalu sedekap, dan berdo'a
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَ عَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَ أَكْرِمْ نُزُلَهُ وَ وَسِّعْ مَدْخَلَهُ. وَ اَغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. وَ اَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الـْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ عَذَابِ النَّارِ.
"Ya Allah ampunilah mayat ini, berilah rahmat dan ampunilah segala dosanya, muliakanlah kehadirannya, serta lapangkanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air, salju, dan air es. Sucikanlah dia dari dosa sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan tempat kediaman yang lebih baik, begitupun keluarga serta isterinya dengan yang lebih berbakti, serta lindungilah dia dari bencana kubur dan siksa neraka"

Takbir ketiga, mengangkat tangan lalu sedekap, dan berdo'a
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَـيِّنَا وَ مَيِّـتِنَا وَ صَغِيْرِنَا وَ كَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَ أُنْثَانَا وَ شَاهِدِنَا وَ غَائِبِنَا اَللَّهُمَّ مَنْ اَحْيَتَيْتَهُ مِنَّا فَـأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَنِ اَللَّهُمَّ لاَتُحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
"Ya Allah ampunilah kami yang masih hidup dan yang telah mati, anak-anak dan orang tuanya, laki-laki serta perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir. Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan diantara kami, hidupkanlah dia dalam keislaman, dan siapapun yang Engkau wafatkan diantara kami wafatkanlah ia dalam keimanan. Ya Allah janganlah kami terhalang untuk memperoleh pahalanya, dan janganlah kami disesatkan sepeninggalnya."

Takbir keempat, mengangkat tangan lalu sedekap, dan berdo'a. setelah selesai berdo'a lalu salam, ke kanan dan ke kiri, seperti salam dalam sholat fardhu
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبُّهَا وَ اَنْتَ خَلَقْتَهَا وَ اَنْتَ رَزَقْـتَهَا وَ اَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلإِسْلاَمِ وَ اَنْتَ قَبَضْتَ رُوْحَهَا وَ تَعْلَمُ سِرَّهَا وَ عَلاَنِيَتَهَا جِـئْنَا شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَا
"Ya Allah, Engkaulah Tuhan mayat ini, Engkaulah yang telah menjadikannya dan yang Memberinya rizqi, Engkaulah yang telah membimbingnya kepada agama Islam, Engkau telah menerima ruhnya, serta Engkaulah yang Mengetahui yang tersembunyi (bathin) dan yang nampak (zhahir), kami datang sebagai pemohon, karena itu, ampunilah dia"

Menyalati Jenazah Anak Kecil
Cara menyalati jenazah anak kecil sama saja kaifiyatnya dengan shalat jenazah yang dewasa. Hanya saja didapati keterangan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Dido'akan ibu bapaknya dengan maghfirah dan rahmat" dalam riwayat lain, menggunakan kata-kata "Dido'akan ibu bapaknya dengan 'afiyah dan rahmat".
Dengan memperhatikan sabda Rasulullah ini, kita dapat memahami bahwa shalat yang dilakukan adalah shalat jenazah biasa, hanya saja ditambah dengan do'a maghfirah, rahmat atau 'afiyah bagi kedua orang tua bayi/anak itu di antara tiga takbir setelah takbir yang pertama.
Diantara do'a yang dicontohkan ialah apa yang diriwayatkan olah Bukhari,
وقال الحسن يقرأ على الطفل بفاتحة الكتاب ويقول اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا
Al-Hasan mengatakan, "Membaca al-Fatihah (ketika menyalati) jenazah anak kecil dan mengucapkan, ALLAAHUMMAJ'ALHU LANAA FARATHAN WA SALAFAN WA AJRAN (Yaa Allah jadikanlah bayi ini bagi kami, hal yang lalu, terdahulu dan pahala)"

Larangan Shalat Dan Menguburkan Jenazah Dalam Tiga Waktu
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِr يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ
Dari Uqbah bin Amir al-Juhanny, ia berkata, "Tiga waktu yang Rasulullah e melarang kami untuk melaksanakan shalat dan menguburkan mayat, yaitu ketika terbit matahari sehingga terang, ketika matahari berada di tengah-tengah sehingga tergelincir, dan ketika matahari tenggelam sehingga menghilang. (Tirmidzi & Muslim)

Perintah Mempercepat  Penguburan Jenazah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ r قَالَ أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ
Dari Abu Hurairah dari Nabi e, Beliau bersabda, "Segerakanlah (menguburkan) jenazah! Jika ia orang yang shaleh, maka kalian mempercepat kebaikannya. Jika ia selain dari itu, maka kalian melepaskan keburukan dari pundak kalian. (Bukhori 1231 dai Abu Hurairah).
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ لَهُ يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدْتَ لَهَا كُفْئًا
Dari Ali bin Abi Thalib, Sesungguhnya Rasulullah e beseru kepadanya, "Ya Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan, yaitu; Shalat bila telah datang waktunya, jenazah jika telah hadir, dan perawan jika telah menemukan jodohnya". (Tirmidzi: 995)

Mengantarkan Jenazah
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ r وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ
Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah bersama Abu Bakar  dan Umar berangkat di depan jenazah. (Tirmidzi: 931)
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّقَالَ الرَّاكِبُ خَلْفَ الْجِنَازَةِ وَالْمَاشِي أَمَامَهَا قَرِيبًا عَنْ يَمِينِهَا أَوْ عَنْ يَسَارِهَا
Rasulullah e bersabda, "Orang yang berkendaraan di belakang jenazah, yang berjalan di depannya, sebelah kananya atau sebelah kirinya". (Ahmad)

Perempuan Dilarang Mengantarkan Jenazah

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ نُهِينَا عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا
Dari Ummu 'Athiyah, ia  berkata, "Kami (kaum perempuan) dilarang oleh Rasulullah untuk mengantarkan jenazah, tapi tidak dikeraskan  kepada kami". (Bukhari:1199)

Ketentuan Penguburan Jenazah
*                             Jangan Memperlambat Menguburkan Jenazah
*                             Pengantar Jenazah tidak boleh duduk sehingga mayat dikuburkan
*                             Pengantar mayat boleh di belakangnya, di depannya, di sebelah kiri maupun sebelah kanan mayat
*                             Membawa keranda mayat hendaklah tertib dan hati-hati
*                             Perempuan diilarang mengantarkan jenazah ke kuburan
*                             Yang menguburkan jenazah harus laki-laki
*                             Yang menguburkan jenazah sebaiknya dari pihak keluarga, yang pada malamnya tidak berhubungan dengan istrinya
*                             Kuburan dilarang ditembok, ditulisi diduduki, dibangun diatasnya sesuatu, dan diinjak

Tatacara Penguburan Jenazah
*                             Gali kuburan dengan ukuran yang leluasa dan cukup dalam (Ibnu Majah, II: 247-248)
*                             Buatlah liang lahat (Muslim I: 425)
*                             Tiga orang turun kedalam kuburan dan berdiri menghadap barat (kiblat), lalu keranda (pasaran) diletakkan di sebelah barat. Setelah tutup keranda dibuka, jenazah ditenteng perlahan-lahan oleh yang berada di atas, kemudian diturunkam dan diterima oleh yang berada di bawah dengan hati-hati. Setelah jenazah berada di pangkuan, bacalah:
بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ
bismillaah wa 'alaa millati rasuulillah.
Atau boleh juga dengan bacaan  
*                             bismillaah wa 'alaa sunnati rasuulillah
*                             bismillaah wa billaah wa 'alaa millati rasuulillah

*                             Kemudian turunkan ke arah lubang lahat, agak miring sedikit agar mukanya menghadap kiblat.
*                             Agar posisinya tidak berubah, tahan dengan bantalan yang terbuat dari tanah.
*                             Pasang padung-padung dengan tertib.
*                             Setelah itu, timbun dengan tanah hingga padat.
*                             Ratakan permukaan tanah

عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ الْقَبْرِ وَقَالَ هَذَا مِنْ السُّنَّةِ
Dari Abu Ishaq, ia berkata, al-harits berwashiat agar Abdullah bin Yazid menyalatinya (jika ia meninggal). Lalu ia menyalatinya dan memasukkannya ke kuburan dari arah kedua kaki kuburan. Lalu ia berkata, "ini termasuk sunnah". (Abu Dawud:2796)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ  r أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُورُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا وَأَنْ تُوطَأَ
Dari Jabir, ia berkata, Nabi r melarang kami untuk mengecat kuburan, menulisinya, mendirikan bangunan diatasnya, dan menginjaknya. (Tirmidzi:972)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ  r قَالَ إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ فَقُولُوا بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Dari Ibnu Umar, dari Nabi r, beliau bersabda, Jika kalian meletakkan jenazah di kuburan maka bacalah, "bismillaah wa 'alaa millati rasuulillah " (Dengan nama Allah dan berdasar ajaran rasulullah saw). (Ahmad: 4581; Ibnu Majah: 1539)
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  r إِذَا اتَّبَعَ الْجَنَازَةَ لَمْ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ فِي اللَّحْدِ
Dari Ubadah bin Shamith, ia berkata, adalah Rasulullah r, apabila mengantarkan jenazah, beliau tidak duduk sehingga jenazah diletakkan di liang lahad,  (Tirmidzi: 941)

Upacara di pemakaman

Tidak ada upacara tertentu setelah jenazah dimakamkan. Seperti pidato, sambutan-sambutan, pembacaan al-qur'an, baca do'a bersama dsb.
Setelah selesai pemakaman, yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ialah berdiri menghadap kuburan, lalu menganjurkan agar memintakan ampunan untuk si mayit.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  r إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
Apabila telah selesai menguburkan jenazah, biasanya Rasulullah e berdiri menghadap kuburan lalu bersabda, 'Mintakanlah ampunan bagi saudara kalian (mayat ini) dan mintalakanlah ketetapan iman, karena sesungguhnya, mayat ini sekarang akan ditanyai (oleh malaikat). (Abu Dawud: 2804)


Bid'ah Bid'ah Dalam Pengantaran jenazah dan Pemakaman
1.       Melewati mayit dari bawah sebelum ayit di antarkan ke makam (Bid’ah)
2.       Upacara Do'a sebelum keberangkatan
3.       Upacara Do'a, sambutan, pidato dsb selesai pemakaman
4.       Menancapkan pohon beruas/berbuku sebagai tanda kuburan.  (Haditsnya dho'if)
5.       Menaburkan bunga (ajaran agama Hyang)
6.       Menyiramkan air di kuburan (Haditsnya dho'if)
7.       Menembok, menulisi kuburan (Larangan dari Rasul)
8.       Mentalkinkan selesai penguburan
9.       Membacakan al-Qur'an di kuburan

3 komentar:

  1. Ek is van Afrika, ek hou van die nuus oor die Islam wat jy gee. Hopelik is hierdie webwerf altyd goed om nuus oor die ware Islam te gee. maar ek kan nie die klank verstaan ​​wat u klank of video uitgesaai het nie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ja meneer, de geüploade video's worden in het Indonesisch gepresenteerd, deze site is alleen tijdelijk bedoeld om Indonesisch te begrijpen, Arigato

      Hapus
  2. Ja meneer, video's opgelaai in Indonesies, vir die oomblik slegs vir mense wat Indonesies verstaan, dankie

    BalasHapus