YDIG NEWS

Senin, 10 Desember 2018

Berinteraksi Dengan al-Qur'an Melalui Hapalan


Al-Quran adalah kitab suci Islam yang memiliki dua dimensi nilai dalam kehidupan umat Islam. Pertama ia merupakan kitab suci yang bersifat “melangit” karena diturunkan dari dzat yang maha Suci sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam al-Quran terjamin dari berbagai kebatilan. Firman Allah SWT :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ {فصلت: 41-4I2}

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS. Fusshilat: 41-42).  

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ {الحجر: 9}

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9).
Kedua, al-Quran merupakan kitab yang “membumi” karena apa yang ditulis di dalamnya memiliki tujuan utama[1] untuk menjadi pedoman serta petunjuk bagi manusia dalam menata kehidupannya agar selamat dunia dan akhirat.[2]
Jadi, meskipun pada dasarnya al-Quran merupakan kitab keagamaan, namun berbagai pembicaraannya tidak terbatas pada bidang agama semata. Ia meliputi berbagai aspek kehidupan manusia yang –dalam literatur generasi awal Islam- mencakup tiga hal,yaitu: aqidah, syari’at dan akhlaq.
Untuk lebih jauh mengetahui karakteristik al-Quran, maka harus diketahui terlebih dahulu tujuan kehadiran al-Quran, karena karakter suatu hal akan disesuaikan dengan tujuan kehadirannya. Dan untuk mengetahuinya kita harus melihat apa yang dijelaskan dalam al-Quran itu sendiri. Dengan cara seperti ini kita akan kembali pada al-Quran, bertanya kembali pada al-Quran dan menemukan jawaban dari al-Quran. Maka di antara tujuan kehadiran al-Quran itu adalah:
1.      Tibyan (penjelasan)
Tibyan ini dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya:

... وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ {النحل: 89}

… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS. An-Nahl: 89).
Pada hakikatnya al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka dalam kapasitasnya sebagai petunjuk tersebut ia harus melakukan berbagai penjelasan seputar hal-hal yang berkaitan dan dibutuhkan oleh manusia, karena manusia dilahirkan dengan keadaan yang serba tidak tahu[3] maka Allah SWT memberi pengetahuan tentang sesuatu yang mesti diketahui oleh manusia melalui seorang utusan-Nya (rasul, nabi). Hal ini dilakukan karena terjadinya distorsi penjelasan tentang Tuhan yang dilakukan oleh sebagian manusia, maka diutusnya seorang rasul untuk menjelaskan dengan sebenarnya dari apa yang telah Allah turunkan. Firman Allah SWT:

... وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ {النحل: 44}

… Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka(^) dan supaya mereka memikirkan (QS. An-Nahl: 44).
2.      Hudan dan Mau’izhah هدى و موعظة
Tujuan yang kedua ini yang akan memberikan pada manusia berbagai arahan dan tuntunan (al-taujih wa al-irsyad) dalam kehidupannya agar mendapatkan keselamatan dan sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya. Sebagaimana dalam firman-Nya QS. Ali Imran: 138,

هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ 

3.      Al-Syifa (obat) bagi manusia
Tujuan ini merupakan suatu sasaran bagi terbentuknya kesehatan batin pribadi manusia. Diharapkan dari hadirnya al-Quran sebagai obat penawar batin manusia akan menghasilkan moral yang berkualitas dalam tatanan kehidupan. Inilah yang ditegaskan dalam firman-Nya QS. Al-Isra: 82, yang artinya:
“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian”.
Kabar gembira dan Peringatan  بشيرا و نذيرا
Setiap jenis perbuatan akan menjadi lebih termotivasi ketika ada sesuatu yang mendorongnya. Maka dalam rangka mendorong keshalehan individu maupun masyarakat inilah al-Quran memberikan suatu motivasi dalam bentuk Basyir dan Nadzir, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 119 dan Fushilat: 4.
4.      Menjaga sifat kemanusiaan dengan cara pemeliharaan dan pembentukan kepribadian.
Pemeliharaan dan pembentukan kepribadian ini akan terlihat dari tujuan diturunkannya Islam yang dirangkum al-Quran yang meliputi:
(i). menjaga jiwa;
a. Ditetapkan hukum Qishash[Al-Baqarah;178], untuk keselamatan jiwa dan memeliharanya dari kebinasaan
“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa” [Al-Baqarah;179].
b. Dibolehkan membunuh jiwa dalam perang, untuk mempertahankan kehormatan diri (QS.Al-Hajj:39), mempertahankan agama (QS.Al-Baqarah:190), dan memadamkan fitnah (QS.Al-Baqarah:193).
c.Dilarang membunuh diri sendiri
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu [An-Nisa:29].
(ii) menjaga agama;
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun dibenci oleh orang-orang musyrik [As-Shaf:9].
(iii) menjaga akal;
a. Menyuruh pemeluknya menjauhi segala makanan, minuman dan perbuatan yang merusak akal
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah suatu kekejian yang termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan [Al-Maidah:90].

b. Islam menyuruh makan, minum dari yang baik untuk kekuatan dan kesehatan. Dilarang makan,minum berlebih-lebihan karena merusak dan melemahkan akal
Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia [Thahaa:81].
c. Menggunakan waktu sebagaimana mestinya, tidak menyalahi tabi’at hidup karena akan merusak akal
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan [An-Naba:9-11].
(iv) menjaga turunan;
a. Disyariatkan untuk nikah
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat buat kamu terhindar dari berbuat aniaya [An-Nisa:4].
b. Dilarang berzina
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk [Al-Israa:32].
c. Dilarang membunuh anak
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar [Al-Isra:31].
d. Dilarang membeda-bedakan anak
Berlaku adillah dalam hal pemberian terhadap anak-anak kalian [HR. at-Thabrani].
e. Dilarang menyia-nyiakan anak
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui [Al-Anfal:27].
Ali bin Abi Thalib berkata: "Ajarilah anak-anakmu, maka sesungguhnya mereka di ciptakan untuk suatu zaman yang bukan zamanmu".
(v) menjaga harta.
a. Belanja sesuai kemampuan diri 
Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan membelanjai menurut kelapangannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah ia membelanjai menurut apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kemudahan sesudah kepayahan [At-Thalaq:7].
b. Infaq tidak berlebihan dan tidak kikir
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (belanja mereka itu) di tengah-tengah antara yang demikian [Al-Furqan:67].
c. Tidak boleh menyerahkan harta pada orang tidak mampu menjaganya
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya,harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik [An-Nisa:5].
d. Belanja dijalan Allah
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal bagi Allah-lah pusaka  langit dan bumi ?! …[Al-Hadid:10].
Itulah diantara tujuan kehadiran al-Quran yang semuanya merujuk pada makna bahwa al-Quran merupakan “alat” untuk memfungsikan manusia sebagai objek yang memiliki sisi baik dan buruk, potensi-potensi, negatif ataupun positif. Maka tujuan dari kehadiran al-Quran secara psikologis adalah membentuk moralitas individu maupun kelompok yang dapat mengejawantahkan nilai-nilai Qurani dalam tata kehidupan ini.

Sikap Ideal DalamBerinteraksi Dengan al Quran
Al Quran adalah Kitab Allah petunjuk kehidupan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Setiap muslim dituntut untuk berinteraksi dengannya, menjalin keakraban, menjadi sahabatnya bahkan menjadi keluarganya yang siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan kalau perlu nyawa demi al Quran. Kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai muslim terhadap al Quran menurut tuntutan Allah dan tuntunan Rasul-Nya dapat disimpulkan -sebagaimana yang dinyatakan Ade Hanapi Abu Raudha[4]-, ke dalam lima tanggung jawab pokok terhadap al Quran, yaitu:.
1.     Tilawah dan Tahsin
Tanggungjawab pertama seorang muslim terhadap al Quran adalam ‘tilawah’. Tilawah sering diartikan membaca. Sesuai dengan makna asal katanya yang berarti mengikuti, maka makna tilawah tersebut adalah mengikuti setiap huruf-demi huruf dengan segala tuntutan kesempurnaannya sebagaimana yang dicontohkan yakni dicontohkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu tilawah yang berarti membaca, memiliki penekanan makna bahwa membaca itu harus tepat dan benar sesuai dengan orisinalitas bacaannya yang bersumber dari Rasulullah saw, dipraktikkan para sahabat dan dipelihara oleh para pengikut sunnahnya yang setia. Dengan demikian, pada kata tilawah terkandung pula makna tahsin.
Tahsin menurut bahasa artinya membaguskan yakni membaguskan bacaan al Quran sebagaimana standar-standarnya yang telah ditetapkan dari sumbernya. Istilah Tahsin sering disebut dalam kitab-kitab bertemakan tentang tajwid (aturan membaca al Quran) sebagai sinonim kata tajwid, sementara menurut istilah, tajwid adalah mengeluarkan huruf-demi huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan hak dan mustahaknya. Hak huruf adalah kesempurnaan pengucapan huruf disertai dengan kesempurnaan penerapan sifatnya sedangkan mustahak huruf adalah mengaplikasikan hukum-hukum bacaan terutama ketika satu huruf berhubungan dengan huruf lainnya.
2.    Tahfizh
Tahfizh al Quran adalah tanggung jawab berikutnya terhadap al Quran. Tahfizh berarti menjaga dan memelihara al Quran terutama dengan cara menghafalkannya atau dalam ingatan. Penjagaan dan pemeliharaan al Quran dengan cara ini, lebih mendekatkan setiap muslim pada al Quran karena ia dapat membacakannya di manapun kapan pun dengan mudahnya karena al Quran sudah tersimpan dalam ingatannya dan kesempatan untuk mendapatkan pahala pun semakin luas dan mudah. Adapun ayat al Quran  dan hadits-hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah saw banyak sekali yang mengindikasikan pentingnya menghafal al Quran ini.
3.    Tafhim
Tafhim merupakan tanggung jawab seorang muslim terhadap al Quran yang ketiga. Tafhim berarti memahami. Banyak sekali ayat al Quran yang mengingatkan bahwa fungsi al Quran adalah sebagai petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat oleh karena itu menuntut setiap muslim untuk memahami dan mampu mendalami maknanya dalam rangka menguak makna yang terdalam melaui tafsir dan tadabbur. Tanpa upaya ini, maka keagungan al Quran tidak akan dapat dirasakan dalam kehidupan.
4.    Tathbiq
Tathbiq al Quran merupakan tanggung jawab berikutnya. Tathbiq artinya adalah merealisasikan dalam pengamalan. Penjagaan dan pemeliharaan al Quran melalui hafalan adalah dalam rangka mendekatkan setiap muslim terhadap kitab petunjuk kehidupannya. Melalui pemahaman yang mendalam, maka nilai-nilai al Quran dapat berfungsi secara aplikatif dalam kehidupan sehingga tujuan dapat tercapai, kebahagiaan dunia dan akhirat pun telah menantinya.
5.    Tabligh
Tabligh adalah menyampaikan artinya, nilai-nilai al Quran yang telah dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan bukanlah semata-mata untuk mencapai kesalehan secara pribadi saja tetapi setiap muslim pun dituntut untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat secara umum sebagai wujud kepeduliaannya terhadap sesama sebab dalam suatu hadits disebutkan bahwa tidaklah seseorang dipandang sempurna keimanannya hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seseorang peduli pada dirinya untuk menjadi orang yang baik dihadapan Allah dan takut akan ancaman-Nya maka kepedulian yang sama harus dibangun pula pada saudaranya sehingga menuntutnya untuk menyampaikan semua nilai-nilai kebaikan yang dipahami tersebut terhadap sesamanya.

Pentingnya Tahfizh Al Quran
Banyak riwayat  yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR. Tirmidzi)

a. Fadhail di Dunia[5]

1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah
Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.
“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Sebagaimana dalam sebuah hadits diceritakan:
“Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’I dari Abu Hurairah)

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda,
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

6. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

b. Fadhail di Akhirat

1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal
Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga
Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat
“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ?alaih)

4. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan
Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

5. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari bacaan Al Quran.
Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

6. Pembaca Al Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan keuntungan pahala dan keutamaan

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (٣٠ ) 


“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30)
Allah Swt berfirman :

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا


”Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS. Al-Isra : 9)


Khatimah
Sifat positif dan negatif manusia lahir dari unsur asal kejadiannya, yakni unsur tanah dan ruh. Unsur tanah (rendah, bawah) selalu menarik manusia ke derajat rendah. Jika unsur ini yang dikembangkan, manusia akan mengalami kemerosotan martabat, sehingga menjadi lebih rendah daripada binatang (QS. Al-A'raf [7]: 179). Unsur ruh (atas, tinggi, mulia) selalu mendorong manusia menuju kemuliaan dan martabat yang tinggi. Jika unsur ini dapat dikembangkan, manusia akan mendapatkan hasil maksimal dari sumber daya yang dimilikinya, serta dengan sendirinya ia akan mencapai derajat mulia. Inilah hukum kebijaksanaan Allah yang jauh dari sifat zholim, yang akan menempatkan manusia sesuai dengan usaha positif yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan (QS. Al-Ahqaf [46]: 19).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya (QS. Fushshilat [41]: 46).
Kedua ayat di atas menegaskan bahwa hukum Allah yang Maha Bijaksana akan memberikan kesesuaian pahala atau balasan dengan usaha yang dilakukan oleh seorang hamba. Bahkan penggandaan yang berlipat akan diberikan pada manusia yang berusaha keras melakukan berbagai kebaikan.
Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal, manusia juga berkewajiban mengembangkan sumber daya yang dimilikinya dengan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga melahirkan karya yang berkualitas pula. Dalam perwujudannya, pengembangan sumber daya manusia tersebut dapat diimplementasikan dalam penjagaan ayat-ayat Al Quran dalam hafalan setiap diri kaum muslimin sebagai langkah awal menuju pengaplikasian ajaran Al Quran secara menyeluruh.

* Penulis: Didin Saepudin, M.Ag





[1] M. Rashid Ridla merinci tujuan-tujuan al-Quran (maqashid al-Quran) kepada sepuluh macam, yaitu: (1) untuk menerangkan hakikat agama yang meliputi: iman kepada Tuhan, iman kepada hari kebangkitan, dan amal-amal shaleh; (2) menjelaskan masalah kenabian dan kerasulan serta tugas-tugas dan fungsi-fungsi mereka; (3) menjelaskan tentang Islam sebagai agama fitrah yang sesuai dengan akal pikiran, sejalan dengan ilmu pengetahuan, dan cocok dengan intuisi dan kata hati; (4) membina dan memperbaiki umat Islam dalam satu kesatuan yang merliputi: kesatuan umat (kemanusiaan), agama, undang-undang, persaudaraan seagama, bangsa, hukum dan bahasa; (5) menjelaskan berbagai keistimewaan Islam dalam hal pembebanan kewajiban pada manusia, seperti: cakupannya yang luas meliputi jasmani dan ruhani, material dan spiritual membawa pada kebahagaan dunia dan akhirat, mudah dikerjakan, tidak memberatkan, gampang dipahami, dan sebagainya; (6) menjelaskan prinsip dan dasar berpolitik dan bernegara; (7) menata kehidupan material (harta) ; (8) memberi pedoman umum tentang perang dan cara mempertahankan diri dari agresi dan interfensi musuh; (9) mengatur dan memberikan kepada wanita hak-hak mereka dalam bidang: agama, social, dan kemanusiaan pada umumnya; dan (10) memberikan petunjuk-petunjuk dalam hal pembebasan dan pemerdekaan budak. Lihat M. Rashid Ridla, Al-Wahy al-Muahmmadi (Kairo: Maktabat al-Qahirat, 1960 M/ 1380 H), hal. 126-128. 
[2] QS. Al-Baqarah: 185, QS. An-Nahl: 89, Al-Furqan: 1, At-Takwir: 27…
[3] Lihat QS. An-Nahl (16): 78.
[4] Disampaikan dalam salah satu makalah LKP TARQI salah satu lembaga pembinaan Al Quran dan Studi Islam
[5] Salinan langsung dari makalah “Fadhilah Tahfizh Al Quran” yang disampaikan oleh Abu Fatan dalam halaqoh “Majelis Mudzakarah Al Quran” Bogor, 5 Januari 2012 

0 komentar:

Posting Komentar